Pulau
Sasaka Ikon
Daya
Tarik Patenggang
Situ Patenggang merupakan obyek wisata alam paling
favorit di Kabupaten Bandung. Terhadap obyek wisata ini sebagian orang ada yang
menyebut “Situ Patenggang” dan ada yang menyebut “Situ Patengan”. Konon untuk masalah
penyebutan tersebut keduanya sah-sah saja, karena dari kedua penyebutan nama
itu masing-masing memiliki makna dan filosofi.
Ditengah danau atau situ Patenggang
ada sebuah daratan yang diberi nama Pulau Sasaka yang kemudian lebih populer dengan
sebutan Pulau Cinta. Legenda menceritakan,zaman dahulu kala ada sepasang
kekasih memadu cinta di pulau tersebut. Kedua kekasih itu bercengkrama,berkejar-kejaran,bersembunyi dan saling mencari. Dalam bahasa Sunda arti
kata saling mencari itu sama dengan “pateangan-teangan”.
Dari kata pateangan-pateangan itulah
lahir penyebutan atau pelavalan kata “patengan”
tanpa diptong (bunyi suara) hurup “a”. Dari sanalah asal-usul nama Patengan
atau Patenggang (Patarenggang=Sunda).
Sejumlah leteratur menyebutkan sejak
tahun 1920 Situ Patenggang sudah banyak dikenal orang. Terutama dari kalangan
orang Eropa. Bahkan mereka sampai membangun bungalau atau vila untuk tempat
beristirahat,dan hingga kini bungalau-bungalau tersebut masih berdiri kokoh.
Sekarang, kawasan wisata Patenggang
lebih lengkap lagi dengan hadirnya wahana wisata Glamping Lakeside,tempat
kemping elit dengan layanan ala hotel berbintang. Karena di tenda-tenda itu
sudah tersedia bad,handuk bersih,air
hangat,toilet,bahkan ketika penghuni kemah pengen
makan minum tinggal naik saja ke atas bahtera
yang tangguh “berlayar” di “samudra” kebun
teh yang diberi nama “Pinisi Resto”. Disana tersedia berbagai menu makanan.
Sambil makan di atas gladak bahtera, sambil menikmati keindahan alam Patenggang by night (Patenggang diwaktu
malam). Luar biasa indahnya. Sejauh mata memandang terlihat beriak air danau
yang bening tak bergeming seakan tak mau beranjak mengawal Pulau Cinta yang
sakral dan dikeramatkan oleh sejumlah kalangan masyarakat Patenggang,yang
menginginkan kearifan lokal Patenggang tidak terusik.
“Kami tidak ingin kearifan lokal Patenggang di usik. Harapan kami biarkan
Situ Patenggang itu lestari, biarkan situ Patenggang manfaat bagi
masyarakat,jangan sampai Pulau Sasaka dieksplorasi karena tempat itu keramat
buat kami,”ujar Dadang Muhtar, pengelola obyek wisata Situ Patenggang (Tabloid
“TINTA” edisi 75).
Dan kenyataannya memang
demikian,keberadaan Pulau Sasaka atau Pulau Cinta tidak akan di usik oleh
pengembang karena Pulau Cinta itu merupakan ikon Situ Patenggang yang
keberadaannya harus tetap terjaga dan lestari.
“Yang saya tahu Pulau Sasaka atau
Pulau Cinta itu adalah warisan alam. Kita tidak akan mengganggu Pulau Cinta.
Kita tak menyentuh itu. Justru Pulau Cinta itu akan menjadi ikon Patenggang
yang harus dipertahankan. Perahu atau Pinisi Resto ini sengaja dibangun dengan
menghadap Pulau Cinta. Dan ini meningkatkan tema dari lokal . Tema lokalnya apa?
Ya, itu tadi, warisan kearifan lokal.
Kalau kita berbicara warisan, warisan alam ini harus dipertahankan.” Kata Hong
Ming,manager Glamping Lakeside kepada Tabloid TINTA.
Memang sejak awal pihak pengembang
sudah memikirkan bahwasanya kawasan wisata Patenggang harus maju dan berkembang
tanpa harus merusak lingkungan dan kearifan lokal. “Jadi kalau ada indikasi
kita akan merusak, melakukan eksplorasi, itu salah sekali. Malah kita mengangkat
perekonomian. Tenda kita juga sistemnya digantung. Jadi serapan air tetap
masuk. Pembuangan air kotor ada, jadi tidak mengganggu ekosistim,tidak
mengganggu keberlangsungan hayati. Sejak awal hal itu sudah kita pikirkan,”
jelas Hong Ming.
Hong Ming berkomitmen, pihaknya akan
menjaga dan memberdayakan Pulau Sasaka.”Jadi masalah Pulau Sasaka atau Pulau
Cinta, mari kita jaga dan berdayakan karena Pulau Sasaka itu merupakan ikon
daya tarik Patenggang.” Tandasnya.(Lili
Guntur)***
Komentar
Posting Komentar