Misteri
Obyek Wisata Kawah Putih
![]() |
| Add caption |
Sejumlah literatur mencatat
tentang keberadaan obyek wisata Kawah Putih, sehingga obyek wisata ini jadi
terkenal ke seantero nusantara hingga
mancanegara sebagai daerah tujuan wisata (DTW). Dan kali ini penulis akan
mengulas sisi mistis obyek wisata Kawah Putih yang didasarkan atas pengalaman
sejumlah sumber yang pernah berkunjung kekawasan wisata Kawah Putih yang keindahan panorama alamnya tidak diragukan lagi. Namun
dibalik keindahyannya ternyata Kawah Putih menyimpan aura mistis yang luar
biasa!
Berdasarkan catatan sejarah,
Kawah Putih pertama kali ditemukan oleh seorang Belanda peranakan Jerman
bernama Frank Wilhelm Junghun (1837). Sebelumnya tidak ada yang berani mendatangi
tempat itu karena kelihatannya sangat angker. Sebagian kalangan masyarakat
(disana) memiliki kepercayaan bahwa kawasan pegunungan Patuha dihuni oleh
makhluk halus yang terkadang berwujud harimau jadi-jadian. Dikawasan pegunungan
Patuha ,selain Kawah Putih, ada beberapa makam keramat diantaranya; makam Eyang
Jagasatru, Eyang Rangga Sadewa, Eyang Camat, Eyang Ngabeuhi, Eyang Barakbak,
Eyang Baskom,dan makam Eyang Mbah Jamrong.
Menyinggung tentang
adanya makhluk halus, sejumlah
masyarakat disana membenarkan. Menurut salah seorang kuncen Gunung
Patuha,katanya, makhluk halus itu sering menampakkan wujudnya berupa harimau.
Yang mana , kata kuncen ,harimau tersebut merupakan wujud jelmaan Eyang
Jagasatru sang penguasa Gunung Patuha (Gunung Sepuh). Namun tidak semua orang bisa melihat harimau jadi-jadian
itu yang secara kebetulan suka muncul di sekitar kawah dan di tempat kholwat (pertapaan). Ada pantrangan yang harus dipatuhi kalau
kita berwisata ke Kawah Putih. Jangan sekali-kali berbicara sompral (arogan).
Kisah mistis yang dialami Mang
Aca, asal Kampung Tegal Ilat,Desa Sekarwangi Kecamatan Soreang, Dia pernah kawenehan bertemu harimau Gunung Patuha.
Ketika itu Mang Aca sedang ritual kholwat (bertapa) di sekitar kawasan Gunung
Patuha. “Pas tengah malam saya terbangun. Ketika menengok ke sebelah alangkah
kagetnya saya melihat ada seekor harimau sedang tiarap. Kirain bukan raja
hutan. Tapi anehnya tidak pernah terlintas ada rasa takut dalam diri saya
ketika di sebelah saya ada seekor raja hutan. Karena saya yakin dia tidak akan
mengganggu, harimau itu pasti adalah harimau jadi-jadian,begitu pikir saya.”
Mang Aca menuturkan pengalaman yang dialaminya tahun 1987 kepada penulis.
Konon menurut informasi di
sekitar Kawah Putih itu ada tempat ritual yang berupa makam keramat dan Sumur Tujuh yang dipercaya oleh sebagian
kalangan masyarakat bisa dijadikan media
tempat ritual menyampaikan
beberapa keinginan sesuai dengan nama sumur-sumur tersebut (Cigending,Cipelet,
Ciujung, Ciemas, Ciperak, Ciwibawa,dan Cipangaruh).
Pada suatu hari di tahun 80-an
ada seorang pengunjung,sebut saja Pak
Haji. Dia ingin membuktikan kebenaran cerita orang-orang tentang misteri Kawah Putih
Gunung Patuha. Maka Pak Haji berdiam di
suatu tempat yang sering digunakan untuk ritual pesugihan. Ketika berada di
sekitar sumur tujuh Pak Haji berujar di dalam hatinya, “Kalau benar di tempat
ini ada penunggunya coba perlihatkan satu keanehan dihadapan saya!” Demikian
tantang Pak Haji. Tiba-tiba pancuran dimana Pak Haji sedang berjongkok hendak
mengambil air, seketika air di dalam sumur itu surut sehingga Pak Haji tidak
jadi mengambilnya. Padahal kata warga sekitar yang namanya Sumur Tujuh itu airnya tidak pernah surut. “Betul juga,
ternyata bukan omong kosong,”ujar Pak Haji seperti dikatakan Bapak Aki (colega
Pak Haji) kepada penulis beberapa waktu lalu.
Dari hasil pantauan penulis,
namanya saja Sumur Tujuh, tetapi keadaannya tidak layak di sebut sumur.
Kedalamannya tidak lebih dari 50 cm, mirip sebuah kubangan namun airnya sangat jernih dan dingin sekali.
Sumber mata airnya memancar tujuh di sela bebatuan. Di sebelah kiri sumur ada saung berukuran kecil tempat orang
bertapa. Sesuai namanya tadi, sumur Cigending
katanya berkhasiat untuk kadigjayaan (kegagahan), Cipelet untuk aji
kinasihan, Ciujung agar dihormati orang, Ciemas dan Ciperak untuk pesugihan.***
(Lili Guntur)

Komentar
Posting Komentar