Langsung ke konten utama
Cerpen                    
Ngobrol Sore-Sore
Oleh : Risa Amelia*
                                   

Sore itu  Dede dan Kakak lagi asyik ngobrol di teras depan rumah. Sementara Mamahnya sibuk menyelesaikan pekerjaannya,dikejar target,sore ini jahitannya harus beres dan segera disetorkan  karena barangnya  oleh boss  akan segera dipasarkan.
            Kakak bercerita tentang keadaan  kota Soreang  ibu kota Kabupaten Bandung yang mulai banyak perubahan. Pemerintah setempat melaksanakan kegiatan pembangunan dibeberapa wilayah kota kecamatan terutama yang menjadi penyangga ibu kota Kabupaten Bandung.
            “Terakhir kali kita sama-sama ke Bandung sekitar kurang lebih dua tahun kebelakang ya De? Waktu itu Dede belum sekolah,dan Kakak masih duduk di bangku kelas dua es-de.” Kata Kakak.
            “Gimana kesannya waktu  kemaren Kakak ikut Babeh ke Bandung.” Dede penasaran ingin dengar cerita Kakak.
            “Daerah Soreang sekarang mulai banyak perubahan. Disamping sarana pembangunan yang sudah ada seperti stadion sepak bola si Jalak Harupat, sekarang sudah ada yang namanya Gedong Budaya Sabilulungan. Bangunannya megah lho.”
            “Buat apa itu gedung nantinya?”
            “Ya untuk pusat kegiatan seni budaya !Waktu kemaren Kakak kesana sama Babeh,kebetulan lagi ada kegiatan Pekan Budaya Kabupaten Bandung. Ada lomba melukis,lomba baca puisi,lomba ngadongeng dalam bahasa Sunda,terus ada pawai helaran aneka atraksi seni. Wah pokonya seru deh!”
            “Sayang aku ga ikut. Terus taman tempat kita bermain kalau sore-sore menghabiskan waktu,sekarang gimana keadaannya?”
            “O,iya! Taman yang ada dikawasan Gading Tutuka itu keadaannya belum banyak berubah. Bahkan kelihatan kumuh. Masalahnya kemaren kan habis kemarau panjang,pohon-pohon yang ada diseputaran taman itu banyak yang pada mati karena kekurangan air. Makanya sekarang lagi di tata kembali.”
            “Aku jadi kepengen ikut Babeh kalo ke Bandung. Aku pengen ngajak Babeh jalan-jalan ke Kabuyutan.”
            “Oh yang disana….yang mau ke Ciwidey itu ya…?”
            “Betul. Itu tempat Babeh  menenangkan pikiran. Kalo pikiran Babeh lagi suntuk  suka pergi ke Kabuyutan soalnya tempatnya enak,dingin,banyak pepohonan kayu yang besar-besar. Trus di Kabuyutan itu Kak ada situs makam tua,dan goa tempat orang-orang melakukan ritual.”
            “Babeh suka melakukannya?”
            “Kalo Babeh kesana cuma beristirahat saja. Kali-kali kita ajak Babeh kesana ya Kak!”
            “Kakak juga pengen. Tapi bagusnya kalo lagi libur sekolah.”
            Kedua kakak beradik itu masih asyik ngobrol. Tiba-tiba terdengar Mamahnya memanggil.”Kakak sini…!”
            “Ya, Mah…” Kakak segera mendapatkan Mamahnya.
            “Antarkan jahitan ini  ke Mang Yaya,berdua sama Dede…” Kata Mamahnya.
            “Tapi aku pengen jajan…!” Seru Dede. Sudah jadi kebiasaan ,kalau di suruh sama Mamahnya ngantarin jahitan ke Mang Yaya, dia selalu minta jatah jajan.
            “Kalo nanti jahitan ini di bayar,kalian boleh jajan. Tapi jangan banyak-banyak jajannya, besok kan harus sekolah,uangnya buat bekal sekolah Dede sama Kakak,”kata Mamahnya.
            “Asyik kita jajan Kak! Yo aku yang bawa..!” Kata Dede bersemangat sambil mengangkat baju-baju yang baru selesai dijahit. Lumayan berat,karena jumlahnya mencapai dua kodi.
            “Coba Kakak bantuin, sebagian….”,usul Kakaknya.

            Setelah itu keduanya pergi di antar tatapan  Mamahnya penuh sayang.***

Komentar