Mengambil
Ibroh
Dari
Perjalanan Spiritual Nabi SAW
Oleh : Lili Guntur*)
Di dalam tareh Islam
dikisahkan, pada suatu malam di bulan
Ramadhan, malam itu adalah malam kemuliaan (lailatur qadar) dan malam yang
penuh berkah (lailatul mubarokah), karena di malam itulah permulaan turunnya Al
Quran sebagai petunjuk dan cahaya yang terang (nur) untuk menyinari seluruh
alam. Di suatu gua di bukit Hira, tidak jauh dari kota Mekah,Nabi Muhammad SAW
sedang berkholwat disitu seorang diri
untuk beribadah,memuja dan memuji Tuhan,memohon dan menggantungkan harapan kepadaNya.
Nabi
amat merasakan, betapa kerusakan kaumnya dan bangsa-bangsa pada umumnya, sehingga
menimbulkan tekad yang besar untuk melakukan pembaharuan dan perbaikan, baik
mengenai kepercayaan, peribadatan maupun hubungan pergaulan hidup. Tetapi Nabi tidak mengetahui
jalan mana yang akan di tempuh dan pelajaran apa yang hendak disampaikannya,
karena beliau belum pernah mempelajari agama-agama lama ataupun pengetahuan
tentang kemasyarakatan. Maklumlah beliau seorang buta hurup (ummi). Hasrat
inilah yang mendorong beliau untuk ujlah
(mengasingkan diri) dan khalwat
(menyepi).
Nabi
SAW berdiam di gua Hira beberapa hari lamanya dengan membawa perbekalan yang
disiapkan oleh istri beliau, seorang wanita rupawan,cerdas ,dan berbudi,
bernama Khadijah. Bila sudah habis perbekalan, beliau pulang dan kembali lagi
dengan perbekalan baru.Hingga sampai lah pada suatu malam yang bersejarah yaitu
malam permulaan turunnya Al Quran.
Pada
malam itu datanglah malaikat Jibril sambil berkata: “Aku ini Jibril dan engkau
Rasulullah!” Sejenak Nabi tidak mengerti perkataan Jibril itu, karena belum
mengetahui siapa Jibril dan apa artinya Rasulullah. Di saat beliau masih
terheran-heran, Jibril menyambung perkataannya dengan menyuruh Nabi` “iqra”
(bacalah!). Karena Nabi seorang yang ummi belum pernah membaca dan menulis,
tentu saja tiada sanggup melaksanakan perintah Jibril. Beliau hanya menjawab : “Ma ana biqari” (Aku tidak bisa
membaca).
Serta
merta Jibril memeluk Nabi dengan keras hingga beliau merasa payah dan sesak
nafasnya. Setelah dilepaskan, disuruhnya sekali lagi membaca. Tetapi Nabi tetap
menyatakan tidak sanggup membacanya. Lantas dipeluknya dengan keras sekali lagi
yang juga membuat sesak nafas beliau. Setelah dilepas kembali Jibril
mengucapkan: “Bacalah dengan nama Tuhanmu
yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan
Tuhanmu itu Maha Pemurah. Yang mengajar
dengan pena (tulis baca). Mengajarkan kepada manusia,apa yang belum
diketahuinya.” (QS.Al Alaq: 1-5)
Selesai berucap itu, Jibril
pun segera menghilang. Bagi Nabi peristiwa ini merupakan hal yang baru pertama
kalinya dialami dan tiada diduga akan terjadi atas dirinya. Tentu saja perasaan
cemas dan bingung timbul di dalam hati. Tiada pula dapat dibayangkan oleh Nabi,
apa gerangan yang akan terjadi pada dirinya sesudah ini. Entah akan beroleh
rahmat dan kebahagiaan ataukah bahaya dan kebinasaan.
Dengan
perasaan harap dan cemas,Nabi segera meninggalkan gua Hira pulang dengan
membawa pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab, berkenaan dengan peristiwa
yang baru terjadi itu. Sampai di rumah, Nabi berseru kepada istrinya : “Zammiluni, zammiluni” (Selimuti
aku,selimuti aku!). Lalu Nabi segera diselimuti oleh Khadijah. Istri yang arif
bijaksana itu merasa telah terjadi sesuatu atas diri suaminya. Setelah tenang
barulah Nabi menceritakan peristiwa itu kepada istrinya. Mendengar berita
tersebut Khadijah berpikir sejenak. Sebagai seorang istri yang mencintai
suaminya sepenuh hati,dia merasa bahwa perasaan cemas yang menyelubungi hati
suaminya harus dihilangkan segera agar jiwanya kembali tenang seperti
sediakala.
Dengan
suara lembut Khadijah berkata agar suaminya tidak usah cemas dan takut karena
peristiwa ini diangapnya bukanlah suatu
bahaya atau hal yang akan membawa celaka. Diingatkan olehnya, bahwa Tuhan akan
tetap memelihara dan melindungi Nabi, karena suka berbuat baik, menegakkan
keadilan, dan kebenaran, membela orang yang teraniyaya dan menolong yang
sengsara. Ucapan Khadijah itu rupanya dapat menentramkan perasaan Nabi.
Kemudian
Khadijah mengajak Nabi menemui anak pamannya bernama Waraqah bin Naufal,
seorang yang telah lanjut usia dan penganut agama Nasrani yang pernah menyalin
sebagian dari kitab Injil ke dalam bahasa Arab. Kepada Waraqah, dikatakan bahwa
suaminya telah mengalami suatu peristiwa yang belum pernah dialaminya selama
ini. Selanjutnya Khadijah meminta Nabi menceritakan kejadian itu kepada
Waraqah. Setelah diuraikan oleh Nabi
peristiwa yang terjadi, Waraqah menerangkan : “Yang datang itu adalah Namus
(malaikat Jibril) yang pernah menurunkan wahyu dari Tuhan kepada Nabi Musa.”
Selanjutnya
Waraqah berkata;”Wahai, seandainya saya masih kuat ketika engkau diusir oleh
kaum engkau, sehingga saya dapat menolong.” Dengan penuh keheranan Nabi
bertanya; “Apakah aku akan diusir oleh kaumku?” Jawab Waraqah tegas: “Itu akan
terjadi dan pernah terjadi pada Nabi-nabi yang terdahulu”. Dengan keterangan
Waraqah ini, keduanya kini mengerti bahwa Nabi Muhammad telah dipilih Tuhan
menjadi Rasul, menerima wahyu dari Allah dengan perantaraan malaikat Jibril.
Tugasnya mengembangkan agama Tuhan kepada segenap umat manusia.
Perjalanan dan peristiwa spiritual yang dialami oleh Nabi SAW dengan cara
khalwat (menyepi) di gua Hira, kemudian menerima wahyu dari Allah SWT melalui
perantaraan malaikat Jibril, itu merupakan ‘itibar (pelajaran) bagi
kita yang mengaku umat Nabi SAW. Ketika
kita menghadapi berbagai persoalan di dalam kehidupan, dirundung pilu dilanda
kegalauan baik yang berupa keinginan atau cita-cita,maka hendaknya taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah
SWT), bertobat dan bersyukur agar memperoleh kesuksesan. Firman Allah SWT
didalam Al Quran surat Al Ahzab ayat 71 yang artinya: “Dan barang siapa yang mematuhi Allah dan RasulNya, sesungguhnya dia
akan memperoleh keberuntungan yang besar.”
Baarakallaahu lii walakum.***

Komentar
Posting Komentar