Dadang Muhtar
Kearifan Lokal Patenggang
Jangan di Usik
Jumlah wisatawan yang
berkunjung ke obyek wisata alam Kawan Putih,Cimanggu,dan Ranca Upas dikawasan
wisata Rancabali,Ciwidey Kabupaten Bandung pada musim libur Idul Fitri tahun
1437H/2016M menurun hingga 40% jika dibandingkan dengan tingkat kunjungan
wisata pada musim libur Idul Fitri tahun kemarin. Turunnya tingkat kunjungan
wisatawan tersebut salah satu penyebabnya adalah isyu kemacetan.
“Kalau
pada liburan lebaran tahun lalu memang terjadi kemacetan yang cukup parah,laju
kendaraan sampai sulit bergerak. Barangkali hal itu yang membuat wisatawan
malas berkunjung. Maka otomatis berimbas terhadap menurunnya volume pengunjung
pada musim libur Idul Fitri tahun ini.”Demikian ujar bagian Tata Usaha Obyek
Wisata Pemandian Cimanggu, Tedi, kepada tabloid TINTA baru-baru ini.
Masih
terkait dengan dilema kemacetan tersebut diungkapkan juga oleh Public Relation Obyek
Wisata Situ Patenggang,Dadang Muhtar, pihaknya
berharap agar dinas instansi yang berkompeten mengelola jalan raya utama
menuju kawasan wisata Bandung Selatan (BS) segera dibenahi untuk memberikan
kenyamanan kepada para pengguna jalan yang akan mengunjungi obyek wisata Situ
Patenggang dikawasan Kecamatan Rancabali.
Menurut
Dadang setidaknya ada lima titik penyebab terjadinya kemacetan yang dapat
menghambat perjalanan wisatawan yang akan berkunjung kekawasan obyek wisata
Situ Patenggang mulai dari Valey, Kawah Putih,Cimanggu,Ranca Upas,dan Walini.
“Sehingga perjalanan wisatawan yang mau ke Situ Patenggang, yang semestinya
menurut agenda bisa sampai pukul 10 atau pukul 11 siang, karena tersendat di
lima pintu tersebut akhirnya baru bisa nyampe di Situ Patenggang sekitar pukul
5 atau pukul 6 karena macet.” Ujar Dadang.
Namun
demikian,kata Dadang, Situ Patenggang tetap merupakan obyek wisata primadona di
Kabupaten Bandung. Sampai saat ini keberadaannya tidak bisa terkalahkan meski
sekarang mulai banyak bermunculan wahana wisata baru. Dan pada musim libur Idul
Fitri 2016, ketika pihak pengelola wisata alam yang lain mengeluhkan kondisi
pengunjung yang menurun drastis hingga
40%, pihaknya malah merasa bersyukur karena masih mendapat lonjakan pengunjung
hingga 10 persen.
Dia
menambahkan, terkait program pengembangan wisata Patenggang dengan dibangunnya kawasan
Glamping, efek dominonya diharapkan bisa lebih meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat
(pelaku jasa wisata Situ Patenggang) yang jumlahnya mencapai 469 orang mulai
dari pedagang, jasa perahu, pedagang asongan, jasa tikar, tukang poto, parkir,
dan toilet.
“Dengan
adanya rumor bahwa dikawasan wisata Patenggang akan dibangun sejumlah wahana
wisata yang namanya Glamping itu, mereka, para pelaku jasa wisata Situ
Patenggang wajar kalau sedikit merasa was-was. Tapi walau pun bagaimana kami
disini sebagai pihak pengelola agro wisata tetap berharap bahwa dengan
dilaksanakannya proyek pengembangan kawasan wisata Patenggang yang katanya akan
membangun ini… membangun itu…yang penting bermanfaat dan bisa meningkatkan
perekonomian masyarakat. Misalkan yang tadinya masyarakat kami penghasilannya
hanya 10 ribu maka dengan adanya pengembangan kawasan wisata Patenggang
penghasilannya bisa meningkat dari yang biasanya 10 ribu menjadi naik.”Ungkap
Dadang.
Ditandaskan,
pihaknya tidak menginginkan timbulnya pergerakan dari masyarakat yang bisa
memicu ke arah tindakan yang melawan hukum. “Harapan kami sebagai pengelola,
biarkan Situ Patenggang itu lestari, biarkan Situ Patenggang manfaat bagi
masyarakat. Kami tidak ingin kearifan lokal Patenggang terusik!” Tegas Dadang.
Pihaknya menilai dengan terjadinya eksplorasi kawasan wisata Patenggang oleh
adanya pengembang jangan sampai mengancam kearifan lokal budaya setempat.
“Bisa
dilihat, sekarang ditengah Pulau Sasaka itu terbentang banner dan spanduk
berisi tulisan sebagai bentuk penyampaian aspirasi luapan emosi masyarakat. Pulau Sasaka yang
sekarang terkenal dengan nama Pulau Asmara dimana disana ada Batu Huis yang
sekarang lebih terkenal dengan sebutan Batu Cinta, tempat itu adalah keramat
buat kami. Dan kenyataanya sekarang Pulau Sasaka itu akan dieksplorasi oleh
pengembang. Maka kepada rekan-rekan dari media tolong sampaikan seruan kami ini
terkait kekhawatiran masyarakat Patenggang jangan sampai kearifan lokal kami
terusik.” Pungkas Dadang.***
(Lili Guntur)
Komentar
Posting Komentar