GBS Berdiri Berkat Dorongan Pasebban
Gedong Budaya Sabilulungan.(Poto:lg)*
Ketua Pasebban Kabupaten
Bandung,Drs.Herry Heryadi alias Abah Awie mengatakan,wacana tentang keinginan
memiliki gedung budaya di Kabupaten Bandung mulai bergulir sejak tahun 2002.
Dalam hal ini, kata dia, Pasebban terus mendorong pihak BAPPEDA Kabupaten
Bandung agar Kabupaten Bandung bisa memiliki gedung kebudayaan yang
refresentatif.
“Tahap
pembebasan lahannya baru bisa selesai tahun 2008,era kepemimpinan bupati Obar
Sobarna,” tutur Abah Awie seraya memaparkan,pada saat kepemimpinan Bupati
Bandung, Dadang M Naser, pembangunan gedung kebudayaan yang sempat tertunda
tersebut dilanjutkan lagi hingga selesai pada penghujung 2014.
”Alhamdulillah bisa ngawujud. Oge teu sakadar gedong budaya sabab
disagedengeunana oge diwangun aya science center sebagai pusat studi kebudayaan
sareng puseur kagiatan anu sanesna, lajeng aya plaza anu peruntukkanana kanggo
kagiatan konser. Dimana eta plaza teh mibanda kapasitas daya tampung sekitar 7000
penonton.” Papar Abah Awie.
Ditegaskan,
keinginan Bupati Bandung,H.Dadang M Naser, lahannya di tambah menjadi 10 hektar
karena rencana ke depan di seputar komplek Gedong Budaya Sabilulungan (GBS) akan
ada Kampung Sunda.
Abah
Awie menandaskan, berdirinya Gedong Budaya Sabilulungan (GBS) merupakan
keinginan besar para seniman budayawan Kabupaten Bandung. Meski kini sejumlah
kalangan menilai bahwa capaian pembangunan bidang kebudayaan di Kabupaten
Bandung perkembangannya tidak jelas, dana kebudayaan banyak tercecer.
Menurut pandangan Abah Awie, yang
menjadi penyebab kurang berkembangnya pembangunan bidang kebudayaan di
Kabupaten Bandung setidaknya ada tiga hal yang menjadi alasan. Pertama,yang
memberikan penilaian bahwa pembangunan bidang kebudayaan di Kabupaten Bandung
kurang berkembang akibat dia (yang memberikan penilaiannya) kurang atau tidak
mengetahui seperti apa sesungguhnya kondisi kebudayaan di Kabupaten Bandung.
Kedua,menurut Abah Awie, jika penilaian tersebut datangnya dari orang yang
mengetahui persis soal kondisi kebudayaan di Kabupaten Bandung maka bagaimana
caranya agar dana kebudayaan yang cukup besar tersebut bisa dikelola dengan efektif sehingga
hasilnya menjadi optimal. Yang ketiga, penyebab belum optimalnya capaian pembangunan bidang kebudayaan di
Kabupaten Bandung mungkin akibat kurangnya keseriusan pihak dinas terkait dalam
melakukan pembinaan dan penataan.
Namun
demikian Abah Awie mempertanyakan, seandainya ada pihak yang menilai bahwa
capaian pertumbuhan pembangunan bidang kebudayaan di Kabupaten Bandung
perkembangannya lambat dan programnya tidak jelas,”Eta teh persi saha heula?Jadi gumantung, persi saha heula?” Ujarnya.(Lili Guntur)***
Komentar
Posting Komentar