Upaya membangun Kepribadian
Benih yang sehat ditentukan oleh
tanah dan udara yang baik,yang memungkinkannya menyerap berbagai unsur yang
diperlukan bagi pertumbuhannya.
Ungkapan tersebut mengisyaratkan bahwa kepribadian seseorang (anak) dapat ditentukan oleh beberapa paktor,antara lain; paktor genetika (keturunan), paktor pendidikan, paktor lingkungan, dan paktor makanan.
1.
Paktor
genetika (keturunan)
Menurut
hukum genetika, sipat-sipat lahir dan sipat-sipat batin kedua orangtua akan
berpindah kepada anak-anaknya melalui gen-gen yang membawa sipat keturunan.
Seorang ayah yang sombong akan melahirkan anak-anak yang sombong pula, dan
demikianlah yang kebanyakan
terjadi.Anak-anak yang lahir dari seorang manusia yang egois maka pada umumnya
keadaannya tidak berbeda dengan keadaan orangtuanya. Inilah hokum genetika.
Para
pakar ilmu jiwa banyak berbicara mengenai hokum genetika ini. Sebagaimana
pengalaman- pengalaman telah membuktikan kebenaran hokum tersebut. Jika para
ibu dan para bapak tidak melaksanakan perlindungan diri dari hal-hal yang
diharamkan, maka akan mendatangkan komplikasi permasalahan yang berbahaya
sekali. Demikian juga sebaliknya, jika seorang ayah memiliki sipat-sipat yang
baik maka sipat-sipat baiknya itu (biasanya) akan berpindah kepada
anak-anaknya. Begitu juga jika seorang ibu memiliki sipat-sipat yang utama maka
sipat-sipat utamanya itu (biasanya) akan berpindah kepada anak-anaknya. Riwayat
mengatakan,”orang yang celaka adalah orang yang celaka di dalam perut ibunya.”Ungkapan
riwayat ini tidak dimaksudkan sebagai pemaksaan, melainkan menunjukkan hukum
genetika (keturunan) itu sendiri. Riwayat ini hendak mengatakan bahwa ayah dan
ibu menyediakan lahan penting bagi kebahagiaan atau kesengsaraan anak-anak
mereka.
2.
Paktor
pendidikan
Husain
Mazhahiri,penulis kitab Jihad an-Nafs
mengatakan, sesungguhnya paktor pendidikan keluarga juga mempunyai pengaruh
yang sangat besar terhadap upaya membentuk kepribadian (seorang anak). Jika
seorang anak tumbuh ditengah lingkungan keluarganya maka sudah pasti cara
dialek berbicaranya akan serupa dengan ayah ibunya. Tak heran jika para pakar
mengatakan bahwa paktor pendidikan keluarga tidak ubahnya seperti paktor
genetika, yaitu paktor yang menyediakan lahan bagi kebahagiaan dan kesengsaraan
anak-anakanya (kelak).
3.
Paktor
lingkungan
Tatkala
seseorang berada disebuah lingkungan, tidak ubahnya dia seperti sedang berenang
di air yang mengalir dengan deras. Jika dia hendak bergerak berlawanan dengan
arus, maka dia akan menghadapi berbagai kesulitan. Jika dia seorang perenang
yang handal maka ada kemungkinan dia dapat melakukannya, namun tentunya itu
dilakukannya dengan menghadapi berbagai kesulitan, dan terkadang arus air
menyeretnya kemana saja dia pergi. Artinya,lingkungan mempunyai pengaruh yang
sangat kuat terhadap pertumbuhan kepribadian seseorang (anak).
4.
Paktor
makanan
Para
pakar kejiwaan membicarakan masalah paktor pemberian makanan secara gamlang.
Mereka meyakini bahwa jenis makanan yang diberikan mempunyai pengaruh yang
besar kepada ketampanan dan kecantikan anak.
Ketika
seorang ibu sedang hamil, Islam memerintahkan agar tidak mengonsumsi makanan
yang subhat dan sebaliknya dia diperintahkan untuk banyak mengonsumsi buah-buahan
segar, seperti buah apel dan yang lainnya. Karena, buah-buahan seperti itu
memberikan pengaruh kepada ketampanan dan kecantikan anak, dan juga berpengaruh
kepada kesuburan air susu ibu. Jika seorang ibu memakan makanan yang segar dan
enak, maka itu akan berpengaruh kepada ketampanan dan kecantikan anak.
Makanan-makanan yang haram mempunyai pengaruh yang sangat besar pada
kesengsaraan anak. Demikian juga makanan-makanan yang subhat.Sebagaimana juga
makanan-makanan yang halal dan suci sangat berpengaruh kepada pembentukkan
janin hingga masa pertumbuhan.
Mudah-mudahan
kita dikaruniai kemampuan mencari nafkah yang halal agar memperoleh rizki yang
baik dan berkah.Baarakallaahu lii
walakum.***
(Lili Guntur)

Komentar
Posting Komentar