Kampung
Kubang Terseret
Arus Zaman
Berjarak sekitar kurang lebih 2 km arah utara dari
pusat ibu kota Kabupaten Bandung di Soreang, terdapat sebuah kampung kecil
bernama Kubang. Luas areal yang dijadikan tempat hunian sekitar 1 hektar dan
dihuni oleh sekitar 30 KK. Secara administratif Kampung Kubang masuk ke wilayah
Desa Parungserab Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung.
Dekade 1980-an kondisi Kampung Kubang masih berupa
areal hutan bambu dan semak belukar. Sementara yang sekarang dijadikan lahan
hunian dulunya berupa sawah yang mendapat pasokan air langsung dari sumber mata
air yang keluar dari celah-celah tebing. Konon airnya sangat jernih. Sebelah
selatan areal persawahan, dibawah rimbunnya pohon bambu berdiri sebuah gubug
kecil yang dihuni oleh seorang nenek tua. Namun semenjak pemilik gubug itu
meninggal dunia(1980) gubug itupun rusak seiring berjalannya waktu hingga
puing-puing gubug itu pun akhirnya musnah.
Secara
geografis Kampung Kubang dikelilingi oleh aliran sungai Leuwi Kuray dan sungai
Ciwidey. Disebelah utara Kampung Kubang terdapat lahan daratan yang di apit
oleh dua aliran sungai tadi. Oleh penduduk sekitar areal tersebut sering
dijadikan tempat rekreasi karena tempatnya teduh, rindang oleh pepohonan. Mata
seakan dimanjakan oleh panorama alam yang indah. Pesawahan yang hijau, suara
burung berkicau di atas dahan, gemericik air menerpa bebatuan sungguh merupakan
musik alam yang harmoni.
Di Kampung Kubang terdapat makam
yang dikeramatkan yaitu makam Sembah Dalem Eyang Ranggabeui dan makam Eyang
Geni,juga sekitar 1 km arah timur,tepatnya di Blok Baraanta terdapat makam Mbah
Malim. Siapakah gerangan ketiga tokoh tersebut?
·
Eyang Ranggabeui, adalah salahseorang tokoh yang disegani (pada
zamannya). Beliau hidup pada abad ke 17. Tidak heran jika makamnya banyak
dikunjungi oleh para peziarah, terutama mereka yang mempunyai hajat tertentu
seperti yang ingin mencalonkan diri jadi Kepala Desa. Mereka datang untuk
melaksanakan lelaku ritual dengan cara melaksanakan tawasulan di depan pusara Sembah Dalem Eyang Ranggabeui.
Namun pasca tahun 1980-an makam tersebut jarang lagi
mendapat kunjungan para peziarah. Hal itu semenjak adanya perambahan, yang
sebelumnya daerah Kubang itu rimbun berupa hutan bambu dan semak belukar serta
pohon kayu-kayu besar yang sudah berjenggot, dan terdapat beberapa mata air.
Semenjak terjadi ekploitasi alih fungsi lahan, daerah yang tadinya terkesan
angker itu kini auranya tidak mistis lagi. Disana-sini mulai dibangun rumah
yang pada akhirnya daerah Kubang menjelma jadi sebuah pemukiman penduduk. Nama
Kampung Kubang sendiri tidak terdapat dalam peta persil di Desa Parungserab.
Dan sampai kini belum diketahui dengan pasti bagaimana asal-usul daerah
tersebut disebut Kubang.
·
Eyang Geni, menurut penuturan warga setempat, adalah seorang jawara kahot yang
sulit tandingannya. Nama tokoh Eyang Geni erat kaitannya dengan asal-usul
pemberian nama Desa Parungserab pada awal abad ke 18. Pada masa penjajahan
Belanda nama desa itu sebelumnya bernama Desa Legok Kendal. Kemudian diganti
namanya menjadi Desa Parungserab. Konon ceritanya, suatu waktu di Desa Legok
Kendal akan diadakan pertandingan tarung para
jawara kahot yang berdomisili diseputaran daerah Soreang. Namun pertandingan tarung itu tiba-tiba tidak jadi. Karena
para jawara tamu yang akan bertanding ternyata tidak pada hadir dengan alasan serab (gigis) oleh kadigjayaan jawara-jawara Legok Kendal (Sekarang Kampung Sirnagalih
dan Kampung Paniisan). Dari dua kata itulah(tarung
dan serab)setelah sedikit mengalami
perubahan diptong dan pelapalan, lahirlah kata Parungserab.
Dan selanjutnya kata Parungserab dijadikan pengganti nama Desa Legok Kendal.
Riwayat ini seperti dituturkan para
leluhur Parungserab generasi abad ke 19.
·
Mbah Malim, menurut pitutur kalangan sepuh
kapungkur (orangtua dulu) beliau hidup pada ahir abad ke 17 dan memiliki
kadigjayaan yang luar biasa. Mampu membuat saluran irigasi yang panjangnya
mencapai lebih dari 7 km dan dapat diselesaikan hanya dalam waktu satu malam
saja. Dengan menggunakan peralatan seadanya seperti; garpu,sekup, pacul dan
linggis. Itulah kehebatan Mbah Malim. Tak heran bila makamnya sampai sekarang
sering diziarahi terutama oleh kalangan masyarakat petani. Irigasi buatan Mbah
Malim yang kemudian pembangunannya disempurnakan oleh pemerintahan colonial
Belanda kemudian diberi nama irigasi
Leuwi Kuray, airnya dialirkan dari sungai Ciwidey setelah terlebih dahulu
dibuatkan semacam tanggul atau parung (bendungan). Sampai sekarang irigasi Leuwi Kuray mampu
mengairi areal persawahan seluas kurang lebih 640 hektar yang meliputi 4 desa
(Desa Parungserab,Desa Kopo,Desa Sekarwangi,dan Desa Katapang).
Jika Anda ingin mengetahui kondisi Kampung Kubang,
Situs makam Eyang Ranggabeui, Situs makam Eyang Geni, Situs makam Mbah
Malim,dan irigasi Leuwi Kuray, perjalanan bisa dimulai dari terminal Soreang,
naik angkot jurusan Cililin atau jurusan Cimahi, berhenti sebelum jembatan
Leuwi Kuray. Sebelah kanan nampak gapura masuk lokasi Kampung Kubang. Sepintas
memang tidak ada yang istimewa, namun penulis mempunyai perhatian khusus bahwa
Kampung Kubang sungguh memiliki nilai historis terkait keberadaan berdirinya Desa Parungserab. (lili guntur)***
Komentar
Posting Komentar