Langsung ke konten utama
Kampung Adat Dukuh
        Tidak Tergoda Kemewahan

Dalam perjalanan jurnalistik edisi kali ini,penulis akan menurunkan laporan tentang  perjalanan ke Kampung Adat Dukuh di Desa Ciroyom,Kecamatan Cikelet,Kabupaten Garut. Bagaimana hal  ihwal asal usul nama Kampung Dukuh,mulai berdirinya Kampung Dukuh, dan hal-hal  yang berkaitan dengan masalah pamali ?Kita simak saja laporan selengkapnya.
            Nama Kampung Dukuh berasal dari kata padukuhan,kata lain dari padumukan atau padepokan. Luas Kampung Dukuh kurang lebih sekitar 10 hektar dengan jumlah penduduk tidak kurang dari 500 jiwa,yang terdiri atas Dukuh Luar  atau Landeuh dibagian bawah dan Dukuh Dalam atau Tonggoh dibagian atas. Selain itu terdapat pranata lain berupa makam karomah, makam pendiri Kampung Dukuh,yaitu Syekh Abdul Jalil.
             
Sejumlah litelatur mencatat bahwa kehidupan di Kampung Dukuh bermula sekitar abad ke-17. Ketika tatar Sunda dikuasai Mataram Jawa abad ke-17. Syekh Abdul Jalil menjabat sebagai penghulu di Kabupaten Sumedang. Karena berkonflik dengan bupati atau dalem yang berkuasa saat itu, Rangga Gempol, terkait dengan upaya pembunuhan terhadap utusan Banten, Syekh kemudian melepaskan jabatannya dan pergi menuju Garut bagian selatan. Yang pada akhirnya Syekh sampai pada suatu tempat dan mendirikan pemukiman yang kini dikenal sebagai Kampung Dukuh. Oleh karena itu, makamnya sangat dikeramatkan oleh warga setempat.
            Masyarakat Kampung Dukuh mempunyai cara pandang hidup yang berlandaskan pada sufisme dengan berpedoman pada madzhab Imam Syafi’i. Landasan tersebut memengaruhi bentuk fisik wilayah tersebut dan adat istiadat masyarakat yang sangat menjunjung harmonisasi dan keselarasan hidup.
            Tidak mudah menemukan kemewahan duniawi di tempat ini. Sesuai dengan adat dan tradisi leluhur, pola hidup penghuninya sederhana sebagai hal utama dan menjauhkan diri dari kemewahan. Tidak heran jika tidak terdapat jaringan listrik dan alat-alat elektronik seperti televisi dan radio,di rumah adat. Bahkan memiliki lemari dan ranjang yang di anggap mewah pun tak diperbolehkan. Atau,tengok bangunan rumah yang di bangun dari bahan-bahan alam sederhana tanpa pulasan cat.
            Kuncen Kampung Dukuh mengakui larangan penggunaan listrik merupakan cara menghindarkan warga dari godaan keduniawian. “Kalau ada listrik,pasti akan ada yang membeli peralatan elektronik dan itu sangat rawan menggoda warga lainnya juga dan memupuk rasa hidup mewah sehingga hidup tidak harmonis. Padahal,aturan kami hidup harus sederhana,”tutur Mama Ajengan Uluk Lukman (kuncen).
            Seluruh penghuni Kampung Dukuh memeluk agama Islam. Keberadaan masjid dipisahkan antara bagian masjid untuk laki-laki dan masjid untuk perempuan (masjid pawadonan). Tanda waktu solat dimulai dengan bunyi kentungan dan diikuti dengan kumandang adzan. Bila sudah waktunya salat, suasana kampung akan terasa lengang karena penghuninya menggelar salat lima waktu dan salat lainnya yang selalu dilaksanakan berjamaah di masjid.
            Warga Kampung Dukuh sangat memercayai uga atau sasauran sepuh baheula,bentuk ramalan mengenai kehidupan yang akan datang sesuai dengan penuturan para leluhur. Masyarakat percaya bahwa perubahan sosial akan terjadi sesuai dengan ramalan tersebut. Jika terjadi sesuatu hal, akan muncul ungkapan “geus nepi kana uga.”
Pada 4 Oktober  2006, 51 dari 96 bangunan yang ada di Kampung Dukuh terbakar bersama isinya. Benda pusaka yang di simpan di Panyepenan ikut musnah pula. Namun tidak ada yang menyikapi kejadian itu dengan emosi.Mereka percaya, tragedy kebakaran itu sudah suratan takdir, lagi-lagi karena sesuai dengan uga.
Dalam tradisi adat, tabu atau larangan sangat mereka junjung tinggi. “Meski tidak ada ketentuan sangsi tegas terhadap pelanggaran yang dilakukan,mereka percaya ngarempak larangan atau melanggar tabu dalam adat istiadat akan mendatangkan malapetaka atau musibah bagi yang melakukannya,” ujar Uluk.
Sejumlah tabu pada kehidupan sehari-hari warga Kampung Dukuh,diantaranya dilarang menjual makanan yang sudah di masak, dilarang berdagang, dilarang menggunakan perhiasan mewah, tidak boleh menempel gambar, kecuali ayat-ayat Alquran, dilarang memelihara binatang berkaki empat seperti kambing dan sapi.
Yang unik, masyarakat Kampung Adat Dukuh dilarang menjadi pegawai negeri sipil. Konon,pendiri Kampung Dukuh, Syekh Abdul Jalil kecewa karena dibohongi atasannya (Bupati Rangga Gempol) yang dianggapnya sebagai ambtenaar (pegawai negeri). Sejak itu dia bersumpah keturunannya tidak boleh menjadi pegawai negeri. Bahkan,pengunjung yang berstatus pegawai negeri  tabu memasuki makam keramat Syekh Abdul Jalil.Jika memaksakan kehendak,warga tidak melarang, tetapi tidak menanggung akibat jika terjadi pemutasian kerja.
Berbagai upacara adat yang dilaksanakan di Kampung Dukuh, diantaranya di gelar pada 10 Muharam sebagai peringatan gugurnya Sayidina Hasan,cucu Nabi Muhamad SAW dalam perang membela agama,12 Mulud diperingati sebagai hari lahirnya Nabi Muhammad SAW dengan gelaran mandi barokah dan lainnya.
Tradisi ziarah makam juga tak kalah uniknya.Setiap Sabtu digelar ziarah ke makam karomah Syekh Abdul Jalil. Sejumlah syarat yang harus dipenuhi yaitu harus mandi atau bersuci dengan air doa dari kuncen sebanyak 40 kali kucuran air, berpakaian polos dengan kaen saur, tidak boleh menggunakan celana dalam,tidak memakai perhiasan, tidak boleh bagi yang sedang pacaran, tidak boleh pedagang atau pegawai negeri, dan dilarang meludah serta mengotori  tempat tersebut.Pelaksanaan ziarah dilakukan bersama-sama dan dipimpin kuncen.
Kesederhanaan dan kearifan Kampung Dukuh makin lengkap ketika mereka memperlakukan hutan di atas kampung dengan sangat bijak. Hutan seluas 40 hektar di atas kampung merupakan  hutan larangan yang tak boleh di sentuh sama sekali. Biarkan kayu pohon lapuk, biarkan daun berguguran, tak akan di ambil manfaatnya sedikit pun. “Kami tidak hidup di hutan,tapi hidup bersama hutan,” kata tokoh masyarakat setempat.
Seluruh tradisi dan adat istiadat yang dijalankan di Kampung Dukuh dipegang teguh oleh masyarakat adat sesuai dengan ajaran para leluhur tanpa terpengaruh zaman. Sesuai dengan pengertian Dukuh, kukuh,pengkuh,patuh sadaya piwuruk sepuh.***

(lili Guntur)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LEGENDA RADEN KALUNG

Can kabejakeun aya urang Mahmud tiwas alatan titeuleum di Citarum,atawa palastra kabawa caah. Pangna kitu,cenah, aya nu ngajaga jeung anu ngalingling nyaeta Raden Kalung anu ngageugeuh walungan Citarum. Saha anu sabenerna Raden Kalung teh? Jeung naon sababna Raden Kalung bageur katurunan Mahmud? Cek ujaring carita, baheula sakitar abad ka 15, mangsa jumenengna Eyang Abdul Manaf alias Eyang Mahmud, kungsi kabejakeun yen Eyang Abdul Manaf teh kantos meunang panangtang ti saurang raja jin anu ngageugeuh walungan Citarum nyaeta anu katelah Raden Kalung. Ari wujudna Raden Kalung, satengah awakna ka luhur jirim manusa, satengah awakna ka handap jirim oray. Raden Kalung susumbar nangtang Eyang Abdul Manaf,pokna, mun aya jelema mampuh ngelehkeun kasaktianana,manehna jangji rek bae’at ngagem agama Islam sarta eta jalma anu geus ngelehkeun manehna rek dijadikeun guru sajati. Ngadangu Syekh Abdul Manaf di tangtang ku bangsa jin, salahsaurang murid Syekh Abdul Manaf  nyaeta Abdulah Ge...

Falsafah Pandawa Nurutkeun Sunan Kalijaga

Seni pawayangan teh mibanda fungsi salaku media geusan nepikeun rupa-rupa informasi katut pesan moral kamanusaan.  Cenah baheula aya waliyulloh nyaeta Sunan Kalijaga anu ngagunakeum seni pawayangan mangrupa media da'wahna.  Salaku wali anu disegani, Sunan Kalijaga, dina prakna mintonkeun pagelaran wayang (saratna) Ki Dalang jeung para nayagana kudu ngabogaan wudu. Ilaharna pagelaran wayang dimimitian ti bada isya rengse ngagayuh ka subuh.  Sunan Kalijaga nyiptakeun gamelan wayang sajodo anu dingaranan Kiyai Nagawilaga jeung Kangjeng Kiyai Guntur Madu.  Gamelan ieu ngalambangkeun dua kalimah syahadat anu satuluyna disebut Nyai Saketi jeung Kiyai Saketi (nepika kiwari di daerah Jawa saban malem Jumaah Kaliwon anu puncakna langsung salila bulan Mulud sok diayakeun ritual upacara Sekaten).  Gamelan Nyai Sekati jeung Kiyai Sekati diperenahkeun dihareupeun masjid.  Sakur nu ngadeudeul kudu asup ti lebah lawang saketeng anu disebut gapura (di coko...
Heri Heryadi: Alokasi Dana Kebudayaan “bacacar”                 Pertengahan Pebruari 2016 penulis sempat mengadakan perbincangan   dengan tokoh seni budaya Kabupaten Bandung,Drs.Herry Heryadi(Ketua Pasebban Kab.Bandung   periode 2010- 2015/ periode 2015-20120),beliau juga adalah Pupuhu Caraka Sundanologi. Perbincangan dilakukan dirumahnya yang sejuk,kawasan Kampung Burujul Desa Mekar Rahayu.Kami berbicara tentang masalah   capaian pembangunan bidang kebudayaan di Kabupaten Bandung yang dinilai sejumlah pihak perkembangannya tidak jelas.  Menurut  Herry Heryadi  yang lebih akrab dengan sapaan Abah Awi, setidaknya ada tiga hal yang menjadi penyebab kurang berkembangnya pertumbuhan pembangunan bidang kebudayaan di Kabupaten Bandung. Pertama,  yang memberikan penilaian bahwa  pembangunan bidang kebudayaan di Kabupaten Bandung kurang berkembang akibat  dia ya...